Dilema Desain – Kenapa Desainer (sesekali) Harus Tuli?

Januari 25, 2010

stupid03

Kampanye Be Stupid yang sangat inspiratif dan menggugah dari Diesel

Ketika saya memutuskan untuk mendirikan label clothing sendiri dan menjual desain kaos karya teman-teman saya, saya sudah tahu bahwa salah satu kritik pertama yang akan kami terima selaku distro kaos adalah terkait desain kaos itu sendiri. Contoh kritikan yang masuk kepada kami antara lain:

“Wah, kaosnya kok simple banget” [lihat kaosnya]

“Terlalu rame desainnya, ada yang lebih sederhana tidak?” [lihat kaosnya]

“Warnanya terlalu terang, kekanak-kanakan nih” [lihat kaosnya]

“Ada yang lebh kalem ga?” [lihat kaosnya]

“Duh, kaos ini sih belum masuk standar distro di Bandung” [lihat kaosnya]

“Hmmmm … bla .. bla … 12hjsadja93824ha7&^%$23 ……” [lihat kaosnya]

Sewaktu mendengar atau membaca masukan-masukan seperti ini, saya langsung tertawa kecil. Betapa tidak? Manusia memang sangat subjektif terhadap desain. Dari beberapa contoh kritik di atas saja Anda sudah bisa melihat bahwa terkadang dua kritik bisa sangat kontras. Si pengkritik pertama bilang kalau desain kaos kami terlalu rame, sementara di saat yang bersamaan ada pengkritik lain yang bilang kalau desain kaos kami terlalu simple. Dan uniknya kritikan ini keluar setelah keduanya melihat satu desain kaos yang sama persis. Lucu ya …. ^_^

Belajar dari keypad virtualnya iPhone

iPhone-keyboard

Salah satu yang sukai dari Steve Jobs adalah gaya dan caranya dalam menanggapi kritikan pengguna produk-produk besutan Apple. Syahdan ketika iPhone 3G dirilis, Apple langsung dicerca sana-sini – tentu saja setelah dipuji sana-sini. iPhone memang dipuji karena datang tanpa keypad, tapi uniknya iPhone juga dicerca karena dijual tanpa tombol-tombol itu. Mereka yang memuji menganggap bahwa keypad virtual sudah cukup, sementara yang kontra beralasan bahwa ketiadaan keypad bisa menyulitkan mereka untuk mengetik SMS. So, apa yang dilakukan oleh Steve Jobs & Cos?

Well, mereka tidak menggubrisnya! Sang CEO tampaknya tidak bergeming terkait keypad. Sampai hari ini, ketika iPhone sudah memasuki generasi ketiga (2G, 3G, dan 3Gs), kita – pemuja dan pencerca ketiadaan keypad – tetap tidak menemukan keypad di iPhone. Serius! Meskipun begitu, toh pro dan kontra soal keypad ini tidaklah cukup bagus untuk menahan laju penjualan iPhone. Ponsel non-concept pertama tanpa keypad ini tetap laris bak kacang goreng (walau tidak bisa dibeli kiloan).

Sesekali tuli itu baik kok…

Dari cerita di atas, kita bisa melihat bahwa tampaknya Steve Jobs & Cos memang terkadang “tuli“. Benar, Apple memang “mendengar” ketika user meminta peningkatan kecepatan transfer data dan penambahan jumlah aplikasi, tapi tampaknya mereka “acuh” soal keypad. Ibarat pepatah, macan mengaum kafilah menggonggong berlalu. Auuuuummmmm……… bles kafilahnya ngacir. Wakakaka …

But hold on. Is it applicable for a t-shirt designer? To be “deaf” sometimes?

Wahai desainer, tulilah!

Yoa, why not? Ketika kamu sudah punya ide desain dan kamu sudah menyelesaikannya, langkah selanjutnya adalah memamerkan dan menjualnya. Perkara nanti kaosmu dibilang terlalu simple, terlalu rame, kalem, gelap, kekanak-kanakan, kebapak-bapakan, kurang ini, kelebihan itu, bla-bla-bla, dst., sebaiknya dikesampingkan dulu. Just deaf! Tugasmu sebagai desainer 90% sudah selesai. Jadi alih-alih sedih dan “meredup” karena sesuatu yang tidak ada di kaosmu, kenapa tidak bersuka cita dengan apa-apa yang sudah ada saja.

So pasti! Kalian para desainer harus bersuka cita karena sesuatu yang sebelumnya hanya imajinasi semu di otak kini sudah menjadi nyata dalam wujud kaos. Sesuatu yang hanya angan-angan telah lahir menjadi fakta. Dream comes true! Jadi kenapa tidak merayakannya? Kalian bisa menghabiskan 10% sisa kerja kalian selaku desainer dengan cara memamerkan kaos kalian di kaskus, facebook, this is your partee!, emptees, twitter, wordpress, blogger, tokopedia, milis, dan seterusnya.

stupid02

Kampanye Be Stupid yang sangat inspiratif dan menggugah dari Diesel

Alternatif untuk desainer kaos yang tidak suka berjualan

Tapi bagaimana kalau sang desainer tidak doyan berjualan? Ada dua alternatif. Pertama, jual putus desain kaos kalian ke distro kaos kebanggaan kalian. Kedua, serahkan desain kaos kalian ke Wimkhan Clothing, biar kami saja yang akan mengurus segala sesuatu yang mungkin sangat kamu tidak sukai seperti sales, marketing, shipping, printing, after sales service, dan lain-lain. Kalian akan kami beri royalti sebesar 50% dari total keuntungan, sementara sisanya untuk kami. Sounds cool isn’t?

Kalau kamu adalah desainer kaos yang terkadang “tuli” dan tidak suka berjualan, maka di situlah Wimkhan Clothing bisa jadi mitra bisnis sekaligus teman. Silahkan kirim email ke wimkhan.clothing@gmail.com untuk keterangan lebih lanjut terkait peluang ini. Kami akan memberi kalian panduan desain kaos ala Wimkhan Clothing. Thanks.

Contoh desain kaos dari desainer kami

[Kaos Soccer & Futsal] —— [Kaos Forsaken Doll]

Kudos! Viva designer!

2 Responses to “Dilema Desain – Kenapa Desainer (sesekali) Harus Tuli?”

  1. Romant Says:

    waw,, inspiratif skali,, mkasih tlah menerangkan pikiran saya,, hhehe,, maklum baru pemula,,

  2. vigys Says:

    mantap masbro,, saya pemula.. dan memang baru 8 orang yang mau membeli baju saya!!, dan ada juga yang mengkritik dan saya terus terang sempat down….

    tapi setalah mmbaca artikel ini saya mersakan dpt pncrahan… terimakasih masbro


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: